Ajaran Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah

 

 

Ajaran Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah
Ajaran Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah

1.    Perjalanan Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah

 

Rabi’ah al-Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu al-Khair bin Ismail al-Adawiyah al-Qisysyiyah.[1]Ia adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari Bashrah, Irak. Ia hidup antara tahun 713 hingga 801 M. sumber lain menyebutkan ia meninggal pada tahun 185 H./ 796 M.[2]Sururin mengutip dalam bukunya bahwa: “Rabi’ah meninggal di Yerussalem pada tahun 185 H./ 796 M.”.[3] ia adalah putri keempat dari empat bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan, karena itulah ia diberi nama Rabi’ah. Ia terlahir dari keluarga yang miskin dengan kehidupan orang shaleh yang penuh ke-zuhudan. Rabi’ah kehilangan kedua orang tuanya sewaktu ia masih kecil ketiga kakak perempuannya juga meninggal ketika wabah kelaparan melanda Bashrah.[4]Namun, ia tidak kehilangan pedoman. Keterpurukan itu semakin membuatnya banyak berdzikir dan bertafakur pada Allah SWT. disepanjang siang dan malamnya.[5]

Kondisi memperihatinkan yang dialami Rabi’ah semakin sulit dengan adanya bencana yang melanda kota Bashrah. Kondisi demikian membuat ia jatuh ketangan penjahat dan dijual ke keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Dari sini dikenal dengan al-Adawiyah. Pada keluarga inilah ia bekerja keras tetapi akhirnya dibebaskan lantaran tuannya melihat saat Rabi’ah munajat kepada Allah pada malam hari, tuannya melihat ada cahaya yang memancar diatas kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan kamar. [6]
Setelah dibebaskan tuannya ia menjalani hidup sebagai seorang zahidah atau sufiyahdi sebuah gubuk dekat Bashrah, sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, sebuah batu bata, semua itulah yang merupakan keseluruhan harta yang ia punya.[7] Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah, sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak taubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Allah.[8]Ia pernah dipinang oleh beberapa laki-laki yang kesemuanya adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan besar dan juga kaya. Namun ia menolak semua pinangan-pinangan yang datang padanya. Dikisahkan bahwa pada suatu hari seseorang bertanya pada Rabi’ah tentang pilihan hidupnya untuk tidak menikah. Namun pertanyaan itu malah ia jawab dengan tiga masalah yang selama ini menimbulkan keprihatinan dalam dirinya. Jika ada seseorang dapat menjawab permasalahan tersebut, maka ia akan menikah dengan orang tersebut, yaitu:
1.    Apabila ia meninggal, apakah ia akan menghadap Allah dalam keadaan iman dan suci atau tidak.
2.    Apabila ia menerima catatan amal perbuatan, apakah ia menerima dengan tangan kanan atau tangan kiri.
3.    Apabila pada hari berbangkit, apakah ia termasuk golongan kanan yang masuk surga, atau termasuk golongan kiri yang menuju neraka.
Ketiga permasalahan tersebut hanya Allah-lah yang mampu menjawab dan tidak akan ditemukan orang yang dapat menjawab permasalahan tersebut. Demikianlah argumen yang dijelaskan oleh Rabi’ah dalam menolak setiap orang yang ingin meminangnya. Rabi’ah al-Adawiyah sadar dengan menerima tangan pria dalam ikatan pernikahan, hanya akan membuat ia berbuat tidak adil terhadap suami dan anak-anaknya, ia tidak mammpu memberikan perhatian kepada mereka karena seluruh hatinya hanya untuk Allah semata.
Baca Juga:

2.    Ajaran Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah

Karakteristik ajaran Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah  adalah Ia merupakan orang pertama yang mengajarkan al hubb dengan isi dan pengertian yang khas tasawuf. Cinta murni kepada Tuhan merupakan puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis. Bisa dikatakan, dengan al-hubb ia ingin memandang wajah Tuhan yang ia rindu, ingin dibukakan tabir yang memisahkan dirinya dengan Tuhan. Mahabbah merupakan puncak dari ajaran Rabî’ah alAdawaiyah. Dikisahkan, suatu hari sejumlah orang melihat Rabî’ah membawa sebatang obor dan seember air sambil berlari-lari. Mereka menegurnya, “wahai perempuan tua, hendak ke manakah engkau, dan apa arti semua ini? Rabî’ah al-Adawiyah menjawab; “aku akan menyulut api di surga dan menyiramkan air di neraka sehingga hijab di antara keduanya akan tersingkap sama sekali dari orang-orang yang berziarah dan tujuan mereka akan semakin yakin, lalu hamba-hamba Allah yang setia akan mampu menatap-Nya tanpa motifasi baik rasa takut atau harapan. Apa jadinya sekira harapan akan surga dan rasa takut akan neraka tidak ada sama sekali? Maka tidak ada seorang pun yang akan menyembah Allah”.
Menurut perspektif Rabî’ah, cinta membutuhkan totalitas, sehingga sikap yang harus dilakukan adalah bagaimana kekasih tidak merasa cemburu. Allah maha pencemburu. Jika tidak, kenapa Allah sangat murka dan tidak memaafkan ketika hamba menduakannya dengan sesembahan lain (musyrik)? Dikisahkan, suatu hari beberapa jamaah Rabî’ah mengunjunginya. Saat itu, Rabî’ah sedang terbaring sakit dengan tubuh lemah dan pucat. Mereka menyapa; “Rabî’ah, bagaimana keadaanmu?” Rabi’ah al-Adawiyah menjawab; “Aku juga tidak tahu apa penyebab penyakitku ini. Demi Allah diperlihatkan kepadaku surga, lalu aku terlintas untuk memilikinya. Mungkin Allah cemburu terhadap sikapku ini, lalu Dia mencelaku. Dia menghendaki agar aku kembali kepada-Nya dan menyadari kesalahanku”.
Inilah ajaran mahabbah yang dirilis Rabi’ah al-Adawiyah, sekedar membayangkan surga saja, ia sudah menganggap kekasihnya cemburu. Sebuah kecemburuan suci. Jangankan kenikmatan duniawi, kenikmatan akhirat pun tidak ia harapkan, karena yang menjadi cita-citanya cuma satu; berjumpa dengan sang kekasih (Allah). Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahan dan keagungan-Nya yang sempurna (kamâl). Rumusan cinta Rabî’ah dapat disimak dalam doa-nya:[9]
Oh Tuhan, jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya dan besarkan tubuhku di neraka hingga tidak ada tempat lagi bagi hamba-hamba-Mu yang lain. Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, maka campakkanlah aku dari sana dan berikan surga itu untuk hamba-hamba-Mu yang lain; sebab bagiku engkau saja sudah cukup; Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.
Atau dalam Sya’irnya:[10]
احبك حبين حب الهوى  * وحبا لأنك أهل لذاكا
فأماالذي هوحب الهوى  * فشغلى بذكرك عمن سواكا
وأما الذي أنت أهل له    * فكشفك لى الحجب حتى أراكا
فلا الحمد فى ذاأوذاك لى* ولكن لك الحمد فى ذاوذكا
Artinya :
“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta : Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu.
Cinta karena diriku adalah karena keadaanku senantiasa mengingat-Mu. Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga engkau kulihat.  Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku. Bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.”

 


[1] Sururin, Rabi’ah al-Adawiyyah Hubb al-Illahi, cet. Ke-2 (Jakarta: Srigunting, 2002), hlm. 20.
[2] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel,  Akhlak Tasawuf, hlm. 324.
[3] Sururin, Rabi’ah al-Adawiyyah Hubb al-Illahi, hlm. 4.
[4] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, hlm. 247.
[5] Sururin, Rabi’ah al-Adawiyyah Hubb al-Illahi, hlm. 4.
[6] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, cet. Ke-10 (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010), hlm. 254.
[7] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, hlm. 248.
[8] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, hlm. 254.
[9] Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm. 86.
[10] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel,  Akhlak Tasawuf, hlm. 326.

You May Also Like

About the Author: wacana keilmuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *